Saturday, May 24, 2008

Land Cruiser 70

Toyota Land Cruiser seri 70 ini adalah kendaraan kerja standar di tempat kerja, di salah satu lokasi pertambangan tembaga di Papua. Mobil yang luar biasa dilihat dari ukurannya, tenaganya, dan borosnya. tapi katanya cuma mobil ini saja yang mampu bertahan di lokasi pertambangan ini. Sebetulnya ada kendaraan lain seperti Ford Ranger, Ford Everest, dan LC seri 80, LC seri 100, tapi hanya LC 100 dan LC 70 ini saja yang diperbolehkan masuk ke lokasi pertambangan, yang katanya sih paling ekstrim di dunia. Bahkan ternyata dibandingkan dengan seri 100 seri 70 ini masih lebih perkasa, sering seri 100 disalip ditanjakan, mungkin karena bobotnya(?). Seri 70 masih diproduksi hingga sekarang, hanya ada perubahan dibentuk hidung dan mesin saja. Seri 70 versi lawas punya mesin 6 silinder dengan kapasitas total 4200 cc, sedangkan versi baru punya mesin 8 silinder dengan kapasitas 4500cc. Tenaga yang dihasilkan mesin turbo diesel ini mencapai 135 HP pada putaran 3400 rpm dan torsi 380 Nm pada putaran 1400 rpm, khas mesin diesel yang bertenaga di putaran rendah. Dimensi mobil yang besar (p = 5,1 m; l = 2,1 m; t = 2,1 m), membawa mobil ini membuat kita percaya diri, soalnya nggak ada yang lebih besar dari mobil ini di jalanan. Kalau dijejerin dengan mobil-mobil lainnya, akan tampak betapa kecilnya mobil-mobil LC seri 80 atau 100, apalagi mobil Ford.

Setelah lulus tes lisensi kendaraan ringan di perusahaan, akhirnya saya berhak bawa mobil ini dan kebetulan saya juga lulus lisensi untuk jalur heat road yang punya tanjakan paling hebat yang saya tahu, selain tanjakan di dekat rumah saya di daerah Ciwaruga :) Btw, bawa mobil besar sepert ini ternyata nggak sesulit yang dibayangkan. Bukannya mau sombong loh, tapi mungkin karena kapasitas mesinnya yang besar bikin mobil ini terasa ringan. Selain itu karena mesin diesel, karakter tenaga di puaran bawah yang kuat, bikin mobil ini nggak rewel dibawa dengan gigi tinggi. Terbukti tanjakan-tanjakan yang curam, bisa sampai 40 derjat, juga bisa dilalap dengan gigi 4 atau 3. Mobil ini punya kolong yang tinggi, bahasa kerennya ground clearance, artinya jarak dari tanah ato aspal ke bodinya lumayan besar, sekitar 40 cm. Ya, iyalah namanya juga mobil off road dan karenanya dipakai di medan berbatu, berlumpur, masuk ke kolam air juga tetap yakin bawanya.
Namun meskipun termasuk mobil yang besar, di tempat kerja masih ada kendaraan yang lebih besar lho, yaitu truck CAT 797 dan 793, termasuk truk paling besar di dunia. Kalau dibandingkan, maka perlu 18 unit LC seri 70 untuk bisa menyamai besarnya truk tersebut. Besar truck menyamai rumah 2 tingkat, lebarnya 3 x , panjangnya 2 x, dan tingginya 3 X LC70. Oleh sebab itu membawa mobil di lokasi kerja perlu kehati-hatian yang tinggi dan harus ada rasa saling menghormati, menghormati yang besar dan juga menghormati yang kecil. Di sinilah gaya nyetir defensive benar-benar terpakai, gak boleh ugal-ugalan ato keselamatan terancam. Jaga kecepatan, jaga jarak dengan kendaraan lain, lampu harus terus menyala, dan sadari bahwa orang lain harus mengetahui kehadiran kita di dekat mereka. Setelah bawa mobil di tambang ini beberapa bulan, selama cuti di Bandung, cara bawa mobil saya jadi benar-benar beda. Termasuk juga cara bawa motor jadi berbeda, yang biasanya full throttle terus, sekarang full turtle alias nyantai.

Thursday, March 20, 2008

MASYARAKAT BARU YANG PERKASA

Seorang penulis bernama Neil Postman meramalkan adanya sebuah bahaya yang lebih besar daripada yang tampak di permukaan seperti saat ini. Musuh-musuh besar yang tampak di permukaan seperti perang nuklir, komunisme, kapitalisme, dan perpecahan di antara bangsa tampaknya lebih mengerikan dibandingkan dengan musuh-musuh yang lebih terselubung di bawah permukaan. Pada saat ini orang-orang mau menukarkan kebebasan dan kemerdekaan pribadinya demi mendapatkan teknologi yang menjanjikan kenyamanan, rasa aman, dan hiburan. Aldus Huxley dalam bukunya Brave New World meramalkan tibanya bahaya besar yang muncul bersama bangkitnya masyarakat baru, yaitu :
  1. Masyarakat baru yang memperbaiki cacat dalam kepribadian. Orang-orang berusaha memperbaiki kekurangan dan kelemahan mental manusia melalui cara pembedahan dan obat-obatan. Dokter dapat menyembuhkan para penjahat atau kriminil dengan menanamkan chip-elektroda di dalam kepala mereka. Dengan obsesi akan masyarakat yang bebas cacat, kita seolah-olah lupa akan sumbangan berharga dari orang-orang 'aneh' seperti Beethoven, Vulgate, dan Einstein.
  2. Masyarakat baru yang menyederhanakan moralitas. Selama ratusan tahun gereja dan negara berusaha memecahkan masalah keadilan sosial dan seksualitas, tetapi pada saat ini pembahasan mengenai hal-hal itu telah menyingkirkan hal-hal menyangkut kebenaran mutlak dan hak azasi manusia. Yang terpakai hanyalah prinsip toleransi dan kebaikan umum.
  3. Masyarakat baru yang menyederhanakan masalah dengan teknologi. Kita menerapkan kriteria mengenai maju, berkembang, dan terbelakang untuk mengelompokkan masyarakat bukan menggunakan kata-kata bernilai seperti adil, bermoral, baik. Negara di belahan timur lebih asyik mengejar ketertinggalan mereka dibanding negara barat, sementara melupakan nilai-nilai spiritual yang mereka miliki dan sebenarnya dapat disumbangkan untuk mengurangi dampak kebobrokan materialisme negara barat. Saat ini berita tentang pemusnahan dan pembunuhan di Timur Tengah seolah-olah hanya menjadi sekilas berita yang disisipkan di antara berita politik, hiburan, dan olahraga.
  4. Masyarakat baru yang meninggikan hiburan di atas segala nilai. Saat ini seorang artis atau olahragawan yang tampil dalam satu kali pertunjukkan atau pertandingan mungkin mempunyai gaji sampai dua kali lipat daripada gaji seorang guru selama setahun. Televisi sudah menjadi media bagi pemasaran kejahatan sehingga kejahatan apa saja yang disiarkan di televisi akan lebih berkembang dari sebelumnya. Dan juga jika kita mau membandingkan kepopuleran dan jumlah jemaat seorang pengkotbah televisi daripada seorang pendeta di gereja lokal, kita mendapatkan bahwa media televisi juga bisa mentransfer spirit atau roh.
Henry David Thoreau memiliki pandangan mengejutkan yang cukup mengusik kita : "Penemuan kita tidak boleh menjadi mainan-mainan cantik, yang mengalihkan perhatian kita pada hal-hal yang lebih seirus serius. Penemuan tersebut hanyalah alat yang disempurnakan untuk tujuan yang tidak sempurna, tujuan yang sebenarnya sudah terlalu mudah untuk dicapai. Kita terlalu cepat membangun alat komunikasi canggih dari Maine ke Texas, sedangkan antara Maine dan Texas sebenarnya tidak mempunyai hal penting untuk dikomunikasikan."

Takkala kita mengambil surat kabar saat sarapan, kita berharap - kita bahkan menuntut - surat kabar itu memberi kita kejadian penting dari malam sebelumnya. Kita menyalakan radio mobil sambil mengemudi ke tempat kerja, dan berharap sudah ada berita sejak surat kabar pagi tadi naik cetak. Saat pulang sore harinya, kita mengharapkan bukan saja rumah kita sebagai tempat berteduh, untuk menjaga kita merasa aman, tetapi juga untuk membuat kita merasa santai, untuk mengangkat martabat kita, untuk mengelilingi kita dengan musik lembut dan hobi-hobi menarik, untuk menjadi taman bermain, teater di dalam rumah, dan bar mini untuk mengingatkan sebuah cafe. Kita mengharapkan liburan cuti selama dua minggu bisa menjadi liburan yang romantis, eksotik, meriah, murah, dan tanpa kerja keras. Kita mengharapkan suasana luar negeri ketika kita pergi ke tempat yang dekat, dan kita menharapkan suasana dalam negeri ketika kita pergi ke luar negeri. Kita berharap setiap orang merasa bebas untuk berbeda pendapat, namun kita mengharapkan setiap orang setia, tidak merusak ketenangan, dan membuat perubahan drastis. Kita mengharapkan semua orang percaya secara mendalam pada agamanya, namun tidak mengurangi rasa hormat pada mereka yang tidak percaya. Kita mengharapkan bangsa kita menjadi kuat, besar, maju, beragam, dan siap menerima tantangan, namun kita mengharapkan tujuan nasinal kita tersebut dijabarkan dan dituangkan secara sederhana dan gampang dimengerti, sesuatu yang dapat mengatur arah kehidupan dua ratus juta penduduk namun dapat dibeli di emperan jalan dengan uang dua ribu rupiah saja. Kita mengharapkan yang bertentangan dan yang mustahil. Kita menginginkan mobil kecil yang lega, mobil mewah dan ber-cc besar namun ekonomis. Kita ingin jadi kaya tetapi juga dermawan, menjadi kuat tetapi juga penuh belas kasihan, menjadi aktif tetapi juga bisa merenung, menjadi baik hati sementara kompetitif. Kita tertantang oleh humor untuk mencapai prestasi tinggi, terdidik dan terampil oleh pendidikan murahan. Kita ingin makan dan tetap kurus, sering berpergian tetapi juga akrab dengan tetangga, pergi ke gereja "pilihan orang" dan melakukan tuntutannya di gereja sendiri, manusia menyembah Tuhan tetapi juga menjadi Tuhannya. Tidak pernah kita mengharapkan segalanya dan ingin menjadi segalanya, menjadi seperti tuannya seperti saat ini. Tetapi tidak pernah juga manusia merasa tertipu dan kecewa.

Diambil dari buku Finding GOD in Unexpected Places

Friday, February 1, 2008

Mengukur Ketinggian dengan menggunakan Barometer

Cerita berikut berkisar sekitar salahsatu pertanyaan dalam ujian fisika di Universitas Copenhagen:
"Jelaskan bagaimana menetapkan tinggi suatu bangunan pencakar langit dengan menggunakan sebuah barometer."
Salah seorang mahasiswa menjawab: "Ikatlah suatu tali panjang pada leher barometer, lalu turunkan barometer dari atap pencakar langit sampai menyentuh tanah. Panjang tali ditambah panjang barometer akan sama dengan tinggi pencakar langit."
Jawaban yang luar biasa orisinilnya ini membuat pemeriksa ujiannya begitu geram sehingga akibatnya sang mahasiswa langsung tidak diluluskan. Si mahasiswa naik banding atas dasar bahwa jawabannya tidak bisa disangka kebenarannya, sehingga universitas menunjuk seorang arbiter yang independen untuk memutuskan kasusnya.
Arbiter menyatakan bahwa jawabannya memang betul2 benar, hanya saja tidak memperlihatkan secuil pun pengetahuan mengenai ilmu fisika. Untuk mengatasi permasalahannya, disepakati bahwa sang mahasiswa akan
dipanggil, serta akan diberikan waktu enam menit untuk memberikan jawaban verbal yang menunjukkan paling tidak sedikit latar belakang pengetahuannya mengenai prinsip2 dasar ilmu fisika.
Selama lima menit, si mahasiswa duduk tepekur, sampai dahinya terlihat berkerut. Arbiter mengingatkan bahwa waktu sudah sangat terbatas, yang mana sang mahasiswa menjawab bahwa ia sudah memiliki berbagai jawaban
yang sangat relevan, tetapi tidak bisa memutuskan yang mana yang akan dipakai. Saat diingatkan hakim untuk ber-buru2, sang mahasiswa menjawab sbb:
"Pertama-tama, ambillah barometer dan bawalah sampai ke atap pencakar langit. Lemparkan melewati pinggir atap, dan ukurlah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tanah. Ketinggian bangunan bisa dihitung dari rumus H = 0.5g x t pangkat 2. Tetapi ya sayang barometernya."
"Atau, bila matahari sedang bersinar, anda bisa mengukur tinggi barometer, tegakkan diatas tanah, dan ukurlah panjang bayangannya. Setelah itu, ukurlah panjang bayangan pencakar langit, sehingga hanya perlu perhitungan
aritmatika proporsional secara sederhana untuk menetapkan ketinggian pencakar langitnya."
"Tapi kalau anda betul2 ingin jawaban ilmiah, anda bisa mengikat seutas tali pendek pada barometer dan menggoyangkannya seolah pendulum, pertama di permukaan tanah kemudian saat diatas pencakar langit. Ketinggian pencakar langit bisa dihitung atas dasar perbedaan kekuatan gravitasi T = 2 pi akar dari (l/g)."
"Atau kalau pencakar langitnya memiliki tangga darurat yang eksternal, akan mudah sekali untuk menaiki tangga, lalu menggunakan panjangnya barometer sebagai satuan ukuran pada dinding bangunan, sehingga tinggi pencakar langit = penjumlahan seluruh satuan barometernya pada dinding pencakar langit."
"Bila anda hanya ingin membosankan dan bersikap ortodoks, tentunya anda akan menggunakan barometer untuk mengukur tekanan udara pada atap pencakar langit dan di permukaan tanah, lalu mengkonversikan perbedaannya dari milibar ke satuan panjang untuk memperoleh ketinggian bangunan."
"Tetapi karena kita senantiasa ditekankan agar menggunakan kebebasan berpikir dan menerapkan metoda-metoda ilmiah, tentunya cara paling tepat adalah mengetuk pintu pengelola gedung dan mengatakan: 'Bila anda menginginkan barometer baru yang cantik, saya akan memberikannya pada anda jika anda memberitahukan ketinggian pencakar langit ini."
Mahasiswa tersebut adalah Niels Bohr, satu-satunya warga Denmark yang memenangkan hadiah Nobel untuk Fisika.

sumber: unknown

Monday, December 24, 2007

My Kymco Easy 100

Bulan ini genap 5 tahun aku bersama Kymco Easy-ku, si imut bahenol ngegemesin yang lincah dan setia nggak ngejengkelin. Dulu waktu mau beli motor ini nggak mikir aneh-aneh, cuma kepengen bawa motor yang gampang dibawa. Dulu belum banyak pilihan motor matik kayak sekarang, cuma ada merk Kymco. Ada yang 150 cc, 125 cc, dan 100 cc paling kecil, yaitu si Easy ini. Motto-nya "It's so Easy" mungkin maksudnya gampang dibawanya, jadi yah cocoklah dengan kebutuhan. Sebetulnya ada teman yang udah beli motor ini, dia yang promosoin ke aku kalo motor ini enak dibawanya, terus kenceng banget tarikannya. Pas waktu bulan itu ada promosi potongan harga yang lumayan berhubung Easy mau ganti body sedikit. Waktu ke dealernya di daerah Kebon Kelapa, sebetulnya marketingnya nawarin yang lebih gede seperti Metica dan Trend, tapi kayaknya malah ngerepotin kalau bawa yang gede-gede, apalagi waktu itu pacar (sekarang istri) lah yang sebetulnya bakal bawa motor ini tiap hari, padahal badan juga lumayan tinggi, tapi karena niat awalnya udah mau yang Easy, ya udah akhirnya pesen Easy juga.
Waktu motor ini sampai ke rumah diantar sales, baru kelihatan kalo motor ini sebetulnya nggak kecil-kecil amat, terutama bagian jok ke belakang ngalah-ngalahin ukuran bebek. Cuma memang panjang motor ini mini sekali, kalo mau boncengan pas-pas benar, nggak mungkin boncengan bertiga meskipun dengan anak kecil sekalipun. Bodinya begitu ringan "cuma" 87 kg jadi sesuailah dengan mesinnya yang cuma 100 cc. Karena tangki bensinnya di bawah dek, maka ruangan di bawah jok alias bagasi punya dimensi yang besar, cukup untuk helm full face, bahkan pernah laptop juga saya masukin ke dalam saking besarnya.

Saturday, December 22, 2007

We were created unique

Everybody Knows:
You can't be all things to all people.
You can't do all things at once.
You can't do all things equally well.
You can't do all things better than everyone else's.
Your humanity is showing just like everyone else's.

So:
You have to find out who you are, and be that.
You have to decide what comes first, and do that.
You have to discover your strengths, and use them.
You have to learn not to compete with others,
Because no one else is in the contest of 'being you'.

Then:
You will have learned to accept your own uniqueness.
You will have learned to set priorities and make decisions.
You will have learned to live with your limitations.
You will have learned to give yourself the respect that is due.
And you'll be a most vital mortal.

Dare To Believe:
That you are a wonderful, unique person.
That you are a once-in-all-history event.
That it's more than a right, it's your duty, to be who you are.
That life is not a problem to solve, but a gift to cherish.
And you'll be able to stay one up on what used to get you down.

Author Unknown

Monday, November 26, 2007

Danau Segara Anak

Tawaran jalan-jalan ke Lombok tidak mungkin saya tolak, apalagi sambil kerja dan dapat ilmu baru. Bulan Juni yang lalu kesempatan tersebut datang dan saya bersama beberapa orang teman2 saya berangkat dengan pesawat Garuda rute Jakarta - Mataram perjalanan selama 2 jam terasa singkat. Wilayah yang akan kami studi adalah Kecamatan Sembalun Lawang yang berada di lereng Timur G. Rinjani. Selama 2 minggu kami melakukan perjalanan dengan jalan kaki untuk melakukan pemetaan mataair panas dan pemetaan geologi untuk mempelajari potensi panas bumi di wilayah ini.

Kami menginap di pos pengamatan gunungapi Rinjani yang dipimpin oleh pak Harlin dan pak Teddy. Mereka adalah penduduk asli Sembalun yang sudah lama bekerja untuk Badan Vulkanologi sebagai petugas pemantau gunungapi. Hampir semua gunungapi semua gunungapi aktif di Indonesia dipantau oleh pos pengamatan gunungapi. Pak Harlin dikenal oleh hasil jepretannya dengan kamera Nikon FM10 saat Gunung Baru Jari, anak G. Rinjani meletus tahun 1995.

Jika orang-orang mengatakan bahwa Gunung Rinjani adalah gunungapi yang sangat indah, saya tidak bisa membantah pendapat tersebut. Setelah seminggu lamanya berada di wilayah Sembalun untuk mencari mataair panas dan hampir setiap pagi memandangi gunung tersebut dari jauh dan dari berbagai sudut, tidak hanya rasa kagum tetapi rasa penasaran perlahan-lahan hinggap. Namun untuk mencapai puncak gunung tersebut bukanlah hal yang mudah untuk kami, selain tidak punya waktu yang cukup banyak, tenaga kami juga sudah habis oleh perjalanan sebelumnya.

Pak Harlin dan pak Teddy yang tidak bosan-bosannya menjelaskan sejarah gunungapi tersebut, kapan dan bagaimana letusannya justru membuat saya lebih tertarik mengunjungi Danau Segara Anak. Danau Segara Anak adalah danau yang terbentuk di dalam kaldera lama G. Rinjani. Danau ini berada pada ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut. Di sisi barat daya terdapat kerucut gunungapi baru yang terbentuk oleh letusan tahun 1984, 1995, dan 2002 di antaranya G. Baru Jari, G. Baru, dan G. Rombongan.

Pada hari Rabu sore kami mulai melakukan pendakian dengan tujuan Danau Segara Anak, terdiri dari saya, Zul, Lina, Yoga, tiga orang porter dan pak Harlin sebagai guide kami. Ada dua rute yang bisa digunakan menuju danau tersebut dan G. Rinjani, yaitu melalui Desa Senaru di sisi utara dan Desa Sembalun Lawang di sisi timur. Melalui Senaru rutenya lebih pendek, namun curam dan pemandangannya kurang, karena melalui hutan. Sedangkan melalui Sembalun rutenya lebih panjang, landai, dan pemandangannya lebih menarik, karena setengah perjalanan akan melalui padang savana. Selain itu keuntungan lainnya menggunakan rute Sembalun adalah kita memulai dari ketinggian yang lebih tinggi dari Senaru. Sembalun berada pada ketinggian 1100 meter, sedangkan Senaru berada pada ketinggian 600 m.

Karena waktu yang dimiliki hanya dua hari, maka kami tidak akan beristirahat di tengah perjalanan tetapi beristirahat di tepi danau. Dan untuk mencapai danau dibutuhkan waktu kurang lebih 12 jam berjalan kaki. Perjalanan kami mulai pada pukul 3 sore, saat sinar matahari mulai berkurang intensitasnya. Perjalanan melalui padang sabana kami disuguhkan pemadangan yang sangat indah. Satu setengah jam berjalan, kami tiba di pos I dan berisitrahat sebentar. Perjalanan dilanjutkan dan kami melalui pos II dan tiba di pos III dua jam kemudian. Kami makan malan di pos tersebut. Makan malam disajikan oleh para porter kami termasuk memasak kopi.

Setelah cukup segar, kami melanjutkan perjalanan menuju Pelawangan. Kali ini perjalanan menjadi lebih berat karena selama menuju Pelawangan jalan mendaki terus. Pak Harlin sering menyebut rute ini disebut sebagai "tanjakan penyesalan", karena biasanya pendaki mulai merasa sangat kelelahan di rute ini. Kami mampu menyelesaikan rute Pos II - Pelawangan dalam waktu 2,5 jam dan saat tiba di atas kami menyaksikan banyak sekali tenda-tenda berdiri di area yang sangat terbatas itu. Biasanya mereka yang mau menuju puncak Rinjani beristirahat di tempat ini, karena dari Pelawangan hanya dibutuhkan waktu 3-4 jam perjalanan saja.

Dari Pelawangan menuju tepi Danau Segara Anak, perjalanan melalui jalan berbatu yang sangat sempit dan terjal. Dengan penerangan yang sangat terbatas, perjalanan menjadi berbahaya. Kami harus berhati-hati dalam memilih pijakan kaki. Akhirnya setelah 3 jam perjalanan turun kami tiba di tepi danau tepat jam 2 pagi. Buru-buru mendirikan tenda dan kami segera beristirahat.

Pagi hari saat keluar dari tenda, dihadapan saya terbentang pemandangan yang luar biasa indah. Permukaan danau yang sangat luas dan berwarna biru memantulkan cahaya matahari. Dinding-dinding kawah yang terjal dan berwarna hitam dengan tinggi ratusan meter membatasi tepi danau. Di atas tebing tersebut awan atau kabut berwarna putih seolah-olah menjadi plafon kawah. Di dalam 'lubang' depresi ini terdapat tiga buah gundukan yang 'kecil' yang berwarna kecoklatan dan mengeluarkan asap tipis. Di sebelah tenggara bukit tersebut di latar belakang adalah lereng G. Rinjani yang terjal dan mencapai ketinggian 3700 m.

Puluhan orang berdiri di tepi danau memegang alat pancing, rupanya kegiatan memancing di danau ini sangat menarik dan kadang-kadang merupakan tujuan utama wisatawan ke Danau Segara Anak. Pak Harlin dan pak Zul asyik memancing di dekat tenda kami, sedangkan porter kami memancing di tempat lain. Satu jam memancing, mereka berdua hanya mendapatkan ikan-ikan berukuran kecil. Rupanya porter kami lebih beruntung dan mendapatkan ikan-ikan berukuran besar yang akan mereka jadikan oleh-oleh. Kami sempat menikmati ikan bakar mujair dan ikan lainnya yang saya tidak ketahui namanya. Katanya yang menebar bibit ikan di danau ini adalah ibu presiden kedua kita kurang lebih awal tahun 80-an.

Setelah kenyang mencicipi ikan bakar, kami menuju mataair panas yang berada di hulu alur Sungai Kokok Putih. Beberapa mataair panas muncul melalui rekahan pada batuan andesit yang sudah terubahkan. Nampak endapan-endapan silika di sekitar mataair panas tersebut, sehingga dari kejauhan kompleks mataair panas ini tampak berwarna putih. Temperatur air panas ini sebetulnya tidak terlalu panas, namun karena kesiangan, semangat untuk berendam surut. Saya yakin kalau tiba lebih pagi, pasti berendam di mataair panas tersebut pasti sangat menyenangkan. Setelah puas berkeliling di mataair panas Kokok Putih sambil melakukan pengukuran dan pengambilan contoh air, kami kembali ke tenda.

Sebetulnya ada satu obyek lagi yang menarik dikunjungi yaitu komplek gunungapi baru, namun karena muka air danau sedang naik, maka perjalanan menyusuri tepi danau ke lokasi tersebut menjadi berbahaya. Perjalanan lain bisa dilakukan dengan perahu, tetapi di danau ini tidak tersedia perahu. Di musim kemarau, jalan di sepanjang tepi danau menuju ke lokasi gunungapi baru akan kering dan lebih aman dan mudah dilalui. Terpaksa kami hanya puas memandangi gunungapi tersebut dari jauh.

JAm 2 siang setelah puas menikmati pemandangan di Danau Segara Anak, kami bersiap-siap pulang. Jika perjalanan naik membutuhkan waktu 11 jam, maka perjalanan pulang lebih cepat. Kami tiba di lokasi keberangkatan kami jam 9 malam, sehingga perjalanan pulang hanya membutuhkan waktu 7 jam. Perasaan puas dan senang membuat perjalanan lebih ringan, dan juga perbekalan yang sudah lebih sedikit.

Satu kenginan saya jika saya ada kesempatan lagi, saya akan melanjutkan perjalanan ke puncak G. Rinjani yang belum sempat dituntaskan kali ini. Mudah-mudahan suatu saat nanti, jika Tuhan berkehendak.

Saturday, October 20, 2007

Perahu Ketinting

Waktu pertama kali ditawari naik perahu ketinting, saya tidak membayangkan sebuah perahu yang kecil. Justru yang saya takutkan adalah buaya-buaya yang kemungkinan sedang lapar dan nekat 'berkenalan' dengan kami. Akhirnya pada siang hari itu kami terpaksa menaiki perahu ketinting, karena tidak ada alternatif kendaraan lain yang dapat mencapai lokasi tujuan kami. Yah, ini demi tugas dan memenuhi rasa ingin tau saya juga.

Saat pertama kali melihat perahu tersebut, pikiran saya langsung bertanya-tanya, apa iya perahu ini aman kami naiki. Lebarnya hanya 60 centimeter, kurang lebih pas untuk melipat kaki, bahkan rasanya kurang. Dengan berpakaian lengkap sesuai dengan standar keamanan perusahaan, antara lain pelampung badan dan sepatu safety, lebar perahu ini benar2 pas2an. Apalagi karena cuaca pada siang hari itu hujan cukup lebat, kami harus menggunakan jas hujan.

Kami berempat beserta dua orang pemilik perahu, total enam orang, menaiki perahu tersebut dan jumlah kami pas dengan panjang perahu ini. Sebetulnya sudah diusahakan untuk dapat memperoleh perahu yang lebih baik, tapi ternyata ukuran perahu yang tersedia di lokasi kami hanya seperti ini. Sungguh ajaib, perahu yang seperti kelebihan beban ini cukup kuat membawa kami melawan arus Sungai Asam-asam, Kalimantan Selatan. Saat itu permukaan sungai ini memang sedang naik, kurang lebih empat meter. Sepanjang sungai ini kami hampir tidak dapat melihat dinding sungai, yang kami lihat hanya pohon-pohon yang sudah terendam hingga tidak terlihat lagi batang utamanya. Kadang-kadang kami harus menunduk agar tidak terkena batang-batang pohon yang melintang.

Perjalanan ini semakin 'mengasyikkan' karena ternyata goyangan tubuh kami langsung membuat perahu ini tidak stabil. Padahal kami seringkali mengganti posisi duduk kami, maklum tidak biasa duduk meringkuk dalam waktu lama seperti ini. Untungnya sang juru kemudi pandai mengendalikan kemudi perahu, sehingga dapat mengatur keseimbangan perahu, walaupun kadang-kadang perahu juga dapat bergoyang tiba-tiba karena menabrak batang pohon yang terendam. Saat bertemu dengan perahu yang sedang 'menyeret' batang-batang pohon tebangan, perahu kami harus segera menepi, karena pasti perahu kami akan terguling jika bertabrakan atau bersenggolan.

Setelah satu jam perjalanan, kami sampai ke tujuan dan mulai melakukan pengukuran kecepatan air sungai. Ternyata melakukan pengukuran dengan current meter di atas perahu tidaklah mudah dan aman. Alat yang berat harus dipegang dua orang dan perahu yang mudah bergoyang membuat kami ekstra hati-hati. Kami tidak ingin tergelincir ke dalam sungai dan berbasah-basah, apalagi kehilangan alat yang mahal tersebut. Untungnya selama pengukuran di 6 lokasi sepanjang Sungai Asam-asam tersebut tidak terjadi apa-apa.

Dalam perjalanan pulang, kami sempat melihat buaya, mungkin masih muda karena ukurannya yang kecil. Buaya tersebut tampak menghindar saat kami melintasi wilayahnya. Tampak juga bekantan, yang sangat mudah dijumpai di Kalimantan, bergelantungan di pohon-pohon. Juga burug-burung dari jenis yang rasanya jarang saya lihat. Semakin ke hilir, semakin banyak rumah-rumah di tepi sungai hingga kami sampai di tempat penjemputan. Total perjalanan kami sekitar tiga jam dan itu bukanlah perjalanan satu-satunya dengan perahu ketinting.

Kesempatan kedua saya peroleh di Kalimantan Timur, kali ini menyusuri Sungai Santan untuk mengamati air sungai dan lokasi jeram. Kali ini menggunakan perahu ketinting yang lebih besar, syukurlah, dan dengan mesin yang lebih besar. Perjalanan kali ini lebih mengasyikkan, karena sungai sedang surut dan setiap perahu hanya diisi oleh tiga orang. Kami pun bisa tidur-tiduran di sepanjang perjalanan, karena lamanya perjalanan dan pemandangan yang lebih monoton. Di sepanjang sungai dapat dilihat lapisan-lapisan batuan dan sesekali lapisan batubara.

Tampaknya wilayah ini lebih berkembang dari pada wilayah di sekitar Sungai Asam-asam, karena kami cukup sering melihat rumah-rumah di sepanjang perjalanan. Penduduk di wilayah ini adalah pendatang dari Sulawesi, terutama Bugis, yang sudah cukup lama mendiami wilayah ini. Sebagian kecil adalah suku asli, yaitu Dayak, yang umumnya hidup berladang di wilayah hulu Sungai Santan. Saat kami tiba di lokasi jeram, kami sempat melihat sebuah keluarga suku tersebut yang hendak berangkat ke ladang mereka. Di lokasi jeram tersebut mereka mencopot mesi perahu ketinting, dan memasangnya kembali pada perahu lainnya yang berada di bagian hulu jeram. Mereka umumnya mempunyai stok perahu, namun jika tidak ada, perahu ketinting pun sepertinya tidak terlalu berat untuk dibawa dengan cara diangkat ke bagian hulu sungai demikian juga sebaliknya.

Perahu ketinting adalah perahu tradisional penduduk di pulau ini yang wilayahnya lebih mudah dijangkau dengan transportasi air, karena banyaknya sungai dan rawa-rawa. Sehingga sungguh penting kiranya dilakukan usaha untuk menjaga kondisi lingkungan di sekitar wilayah sungai agar ketersediaan air tetap baik. Sebab jika air sungai surut, maka penduduk yang menggantungkan kehidupannya pada transportasi air lah yang paling duluan merasakannya. Dan mereka umumnya adalah orang-orang yang tidak mempunyai banyak pilihan lain untuk dapat menikmati transportasi yang cepat dan murah.

salam